Breaking News

Pendidikan

APK dan APM Provinsi DKI Jakarta

APK pada jenjang pendidikan SMA di DKI Jakarta meningkat setiap tahunnya

Angka Partisipasi Kasar (APK) merupakan persentase jumlah penduduk yang sedang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan (berapapun usianya) terhadap jumlah penduduk usia sekolah yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut. APK menunjukkan partisipasi penduduk yang sedang mengenyam pendidikan sesuai dengan jenjang pendidikannya. APK digunakan untuk mengukur keberhasilan program pembangunan pendidikan yang diselenggarakan dalam rangka memperluas kesempatan bagi penduduk untuk mengenyam pendidikan. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan. Nilai APK bisa lebih dari 100%. Hal ini disebabkan karena populasi murid yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan mencakup anak berusia di luar batas usia sekolah pada jenjang pendidikan yang bersangkutan. Sebagai contoh, banyak anak-anak usia diatas 12 tahun, tetapi masih sekolah di tingkat SD atau juga banyak anak-anak yang belum berusia 7 tahun tetapi telah masuk SD.  Berdasarkan Buku Saku Tahun Anggaran 2017-2018 Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Angka Partisipasi Kasar dan Angka Partisipasi Murni menurut jenjang pendidikan tergambar sebagai berikut.

Sumber : Dinas Pendidikan

  1. Rata-rata APK untuk setiap jenjang pendidikan di DKI Jakarta bersifat fluktuatif, kecuali untuk jenjang pendidikan SMA yang meningkat setiap tahunnya.
  2. Untuk APK SD/MI, rata-rata terdapat 4 persen penduduk yang tidak berusia 7-12 tahun bersekolah di SD.
  3. Dalam tiga tahun (2015- 2017) nilai APK SMP/MTs merupakan yang paling tinggi dari jenjang pendidikan lainnya. Rata-rata dalam tiga tahun tersebut terdapat 8,4 persen penduduk yang tidak berusia 13- 15 tahun yang bersekolah di SMP.

Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase jumlah anak pada kelompok usia sekolah tertentu yang sedang bersekolah pada jenjang pendidikan yang sesuai dengan usianya terhadap jumlah seluruh anak pada kelompok usia sekolah yang bersangkutan. Bila APK digunakan untuk mengetahui seberapa banyak penduduk usia sekolah yang sudah dapat memanfaatkan fasilitas pendidikan di suatu jenjang pendidikan tertentu tanpa melihat berapa usianya, maka Angka Partisipasi Murni (APM) mengukur proporsi anak yang bersekolah tepat waktu.

Bila seluruh anak usia sekolah dapat bersekolah tepat waktu, maka APM akan mencapai nilai 100. Secara umum, nilai APM akan selalu lebih rendah dari APK karena nilai APK mencakup anak diluar usia sekolah pada jenjang pendidikan yang bersangkutan. Selisih antara APK dan APM menunjukkan proporsi siswa yang terlambat atau terlalu cepat bersekolah. Keterbatasan APM adalah kemungkinan adanya under estimate karena adanya siswa diluar kelompok usia yang standar di tingkat pendidikan tertentu. Contoh: Seorang anak usia 6 tahun bersekolah di SD kelas 1 tidak akan masuk dalam penghitungan APM karena usianya lebih rendah dibanding kelompok usia standar SD yaitu 7-12 tahun.

Sumber : Dinas Pendidikan

  1. Pada jenjang pendidikan SD dan SMA, persentase penduduk usia sekolah yang bersekolah tepat waktu mengalami kenaikan setiap tahunnya. Sedangkan pada jenjang pendidikan SMP dari tahun 2015 sampai 2018 persentasenya selalu turun
  2. SMA merupakan jenjang pendidikan dengan nilai APK terendah. Artinya, masih banyak penduduk usia sekolah di DKI Jakarta yang belum  mendapatkan pendidikan hingga SMA, padahal pemerintah sudah mewajibkan program belajar 12 tahun.

 

Penulis : Suryani Putri
Editor   : Hepy Dinawati