Breaking News

Perdagangan

Banyaknya Harga Pangan Pokok yang Turun Dari Semester Pertama Tahun 2018 ke 2019

Gula pasir, minyak goreng curah, susu kental manis kaleng, dan garam mengalami penurunan harga dari semester pertama tahun 2018 menuju semester pertama tahun 2019

Beras, gula pasir, minyak goreng, susu, dan garam masuk kedalam sembilan bahan pokok. Kestabilan harga dari bahan pokok ini harus tetap dijaga demi kesejahteraan masyarakat. Dalam hal ini Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, dan Perdagangan (KUKMP) Provinsi DKI Jakarta adalah satuan pemerintah yang mempunyai tugas pokok membantu Kepala Daerah dalam menyelenggarakan kewenangan di bidang Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan serta menghimpun data harga-harga bahan pokok setiap bulannya. Dari data yang didapatkan oleh dinas ini, dapat dilihat terjadinya penurunan harga dari beberapa bahan pokok tersebut seperti gula pasir, minyak goreng curah, susu kental manis kaleng, dan garam.

Beras merupakan makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia sehingga konsumsi beras setiap tahunnya sangat tinggi. Kekurangan pasokan beras pada kurun waktu tertentu akan memunculkan gejolak ekonomi bagi negara Indonesia serta kelaparan bagi lebih dari sebagian penduduknya. Hal itu dikarenakan beras merupakan salah satu sumber makanan utama bagi banyak masyarakat Indonesia, oleh sebab itu pemerintah mempunyai tanggungjawab yang sangat besar untuk memastikan kestabilan harga beras di pasar.

Selama kurun waktu satu semester di tahun 2019, harga beras medium cenderung turun, sedangkan harga beras premium terlihat fluktuatif. Namun, secara rata-rata tidak terjadi kenaikan harga ataupun penurunan harga yang cukup signifikan pada beras premium selama semester pertama 2019.

Harga rata-rata beras medium pada semester ini adalah Rp.12.521 per kilogramnya dan harga rata-rata beras premium pada semester yang sama sedikit lebih murah yaitu seharga Rp.12.287 per kilogramnya. Beras medium termahal seharga Rp.13.748 terdapat pada bulan Maret sedangkan beras premium seharga Rp.12.510 termahal terdapat pada bulan Januari.

Tidak hanya beras yang mengalami penurunan harga rata-rata, dari dua semester terakhir di tahun 2018 dan 2019, tercatat terjadi penurunan harga gula pasir sebesar 1,80% atau Rp.240 per kilogramnya.

 

Di semester pertama tahun 2018, harga gula pasir termahal terdapat pada bulan Februari yaitu sebesar Rp.13.893 per kilogramnya, sedangkan harga termurahnya terdapat pada bulan Mei yaitu Rp.12.915 per kilogramnya. Harga gula pasir tertinggi pada semester pertama tahun 2019 masih jauh dibawah harga gula pasir termahal di semester yang sama pada tahun sebelumnya dengan selisih Rp.443 per kilogramnya. Sedangkan, harga gula pasir temurah di tahun 2019 mempunyai selisih Rp.194 per kilogramnya dibandingkan dengan semester pertama tahun 2018.

Sama halnya dengan gula pasir yang mengalami penurunan harga, minyak goreng curah juga mengalami penurunan harga rata-rata dalam kurun waktu yang sama yaitu sebesar 5,55%.

Harga rata-rata minyak goreng curah selama semester pertama tahun 2018 menuju semester pertama tahun 2019 turun sekitar Rp.692 per liternya. Walaupun harga rata-rata minyak goreng curah pada semester pertama 2019 turun jika dibandingkan pada semester pertama 2018, namun sejak bulan Januari 2019 hingga akhir bulan Juni 2019, harga minyak goreng curah selalu meningkat. Terhitung sejak awal tahun hingga pertengahan tahun 2019 terjadi peningkatan harga sebesar Rp.319 per liter. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan semester yang sama pada tahun sebelumnya, harga rata-rata minyak goreng curah masih lebih murah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Berbeda dengan harga minyak goreng curah yang cenderung turun, harga rata-rata minyak goreng bimoli botol mengalami kenaikan sebesar 7,48% selama rentang waktu semester pertama di tahun 2018 dan 2019.

Selain minyak goreng sebagai bahan yang digunakan oleh masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, susu juga dikonsumsi sebagai salah satu pelengkap kebutuhan protein manusia. Data yang berhasil dihimpun dari Dinas KUKMP untuk jenis susu meliputi harga susu kental manis kaleng bermerek bendera dan indomilk.

Kedua merek susu kental manis kaleng tersebut menunjukkan penurunan harga dalam kurun waktu semester pertama tahun 2018 dan 2019. Susu bermerek bendera mengalami penurunan harga rata-rata sebesar 4,29% dan susu bermerek indomilk mengalami penurunan harga rata-rata 0,99%. Akan tetapi, harga susu bubuk kaleng bermerek bendera mengalami kenaikan harga rata-rata sebesar 0,29%.

Tidak hanya gula pasir, minyak goreng curah, dan susu kental manis yang mengalami penurunan harga pada semester satu tahun 2018 dan 2019, harga rata-rata persemester bahan pokok garam juga mengalami penurunan. Menurut teksturnya, garam dikategorikan pada dua tipe yang berbeda yaitu garam beryodium bata dan garam beryodium halus. Kedua kategori garam tersebut mengalami penurunan harga rata-rata selama satu semester sebesar 6,92% dan 9,07%.

Di semester pertama tahun 2018, harga garam beryodium kasar tertinggi terdapat pada bulan April yaitu sebesar 17.830 per kilogramnya, sedangkan pada semester yang sama di tahun 2019 harga tertinggi untuk garam jenis ini adalah Rp.20.284 per kilogramnya. Tidak semahal harga garam beryodium kasar, harga garam beryodium halus mencapai harga tertinggi sebesar Rp.11.537 dan Rp.10.695 per kilogramnya pada Januari 2018 dan Januari 2019.

Dibalik harga bahan pokok yang relatif stabil, ada banyak upaya yang dilakukan dan terus diupayakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menjaga kestabilan harga beras, gula pasir, minyak goreng, susu, dan garam, seperti contohnya menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah penghasil pangan, pengawasan harga di pasar, dan operasi pasar. Pengawasan secara berkala terhadap stok sembakopun selalu dilakukan oleh dinas terkait. Upaya yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam rangka menjaga kestabilan harga patut diapresiasi dan diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat DKI Jakarta.

Sumber : Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah serta Perdagangan DKI Jakarta
Penulis : Dwi Puspita Sari
Editor   : Hepy Dinawati