Breaking News

Kependudukan

Indeks Ketimpangan Gender (IKG) DKI Jakarta Tahun 2018

DKI Jakarta merupakan salah satu provinsi dengan Indeks Ketimpangan Gender (IKG) terendah di Indonesia dengan indeks sebesar 0,241

United Nation Development Programme (UNDP) memperkenalkan Gender Inequality Index (GII) sebagai ukuran ketimpangan gender pada tahun 2010. GII menggambarkan deprivasi* pembangunan manusia sebagai dampak dari ketimpangang pencapaian pembangunan antara laki-laki dan perempuan (UNDP, 2016). Pengukuran Indeks Ketimpangan Gender (GII) mengukur dalam 3 dimensi, yaitu kesehatan reproduksi, pemberdayaan dan partisipasi di pasar tenaga kerja.
(*deprivasi adalah keadaan psikologis dimana seseorang merasakan ketidakpuasan atau kesenjangan atau kekurangan yang subyektif pada saat keadaan diri dan kelompoknya di bandingkan dengan kelompok lain).

Berdasarkan data yang didapat dari Badan Pusat Statistik tahun 2018, DKI Jakarta merupakan salah satu provinsi dengan Indeks Ketimpangan Gender (IKG) terendah di Indonesia sebesar 0,241. Nilai ini mencerminkan bahwa kerugian/kegagalan pencapaian pembangunan manusia akibat dari adanya ketidaksetaraan gender terkait dengan kualitas hidup dan pemberdayaan di DKI Jakarta adalah sebesar 24,1 persen. Angka tersebut jauh dibawah IKG Nasional sebesar 0,436 (43,6 persen). Semakin rendah nilai IKG, maka kesetaraan gender di wilayah tersebut semakin baik.

Meskipun DKI Jakarta merupakan salah satu provinsi dengan IKG terendah di Indonesia, namun IKG DKI Jakarta dari tahun ke tahun terus meningkat. Wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Barat memiliki IKG yang terus menurun dari tahun ke tahun. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kesetaraan gender di wilayah tersebut semakin membaik. Wilayah yang memiliki IKG terendah pada tahun 2018 adalah Jakarta Barat sebesar 0,167.

Keterangan Indikator:

  • FASKES : Proporsi persalinan tidak dilakukan di fasilitas kesehatan.
  • ULP : Proporsi perempuan umur < 20 tahun saat melahirkan hidup pertama kali.
  • TPAK : Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja.

Pengukuran IKG menggunakan 3 dimensi yaitu kesehatan, pemberdayaan dan pasar tenaga kerja. Ketiga dimensi tersebut dibagi menjadi 5 indikator yaitu Proporsi persalinan tidak di fasilitas kesehatan; Proporsi perempuan dengan umur kelahiran hidup pertama < 20 tahun; Presentase penduduk laki-laki dan perempuan dengan pendidikan minimal SMA; Presentase laki-laki dan perempuan yang duduk di parlemen; dan Tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki dan perempuan.

Kepulauan Seribu merupakan wilayah yang memiliki Indeks Ketimpangan Gender (IKG) tertinggi di Jakarta. Hal ini disebabkan karena persentase wilayah Kepulauan Seribu di beberapa indikator menempati peringkat tertinggi, yaitu Proporsi persalinan tidak dilakukan di fasilitas kesehatan (10,84%) dan Proporsi perempuan umur < 20 tahun saat melahirkan hidup pertama kali (21,71%). Semakin rendah angka IKG, maka semakin baik kesetaraan gender di wilayah tersebut.

Mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur adalah visi pembangunan jangka panjang Indonesia 2005-2025. Adil menunjukkan tidak ada pembatasan/diskriminasi dalam bentuk apapun, baik antarindividu, wilayah, maupun gender. Kesetaraan gender merupakan salah satu tujuan pembangunan berkelanjuta. Dengan terciptanya kesetaraan gender, diharapkan akan meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas generasi mendatang.

Sumber : Badan Pusat Statistik
Penulis  : Iqsyan Iswara Putra
Editor    : Hepy Dinawati