Breaking News

Kesehatan

JUMLAH BALITA KEKURANGAN GIZI

Dari 430 balita kekurangan gizi yang mendapat perawatan pada tahun 2019 terdapat 61% merupakan pasien lama

Kasus balita kekurangan gizi (gizi buruk dan gizi kurang) masih menjadi pekerjaan rumah untuk pemerintah pusat maupun daerah di wilayah Indonesia. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2018 terdapat 17,7% balita di bawah 5 tahun masih mengalami masalah gizi. Angka tersebut terdiri atas balita yang mengalami gizi buruk sebesar 3,9% dan gizi kurang sebesar 13,8%.

Berbagai upaya telah dilakukan guna menanggulangi masalah gizi buruk dan gizi kurang maupun stunting (balita pendek) oleh pemerintah khususnya di Provinsi DKI Jakarta. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan pemantauan perkembangan status gizi balita melalui penimbangan setiap bulan di posyandu, Puskesmas dan Rumah Sakit.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan dan Biro Kesejahteraan Sosial Provinsi DKI Jakarta sepanjang tahun 2015 sampai 2019, jumlah kasus balita kekurangan gizi terbesar yaitu pada tahun 2016 sebesar 1.692 kasus. Jumlah ini didominasi dari kasus balita di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat yaitu sebesar 882 balita dan 615 balita. Sementara pada tahun 2019 terdapat 430 balita kekurangan gizi yang mendapat perawatan. Jumlah terbesar kasus balita kekurangan gizi yang mendapat perawatan di tahun 2019 yaitu pada wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Timur.

Dari 430 balita kekurangan gizi yang mendapat perawatan pada tahun 2019 terdapat 61% merupakan pasien lama dan sisanya adalah pasien baru. Jumlah balita kekurangan gizi yang merupakan pasien baru terbesar yaitu pada wilayah Jakarta Timur sebesar 59% atau 82 balita. Jika melihat kasus pada wilayah Kepulauan Seribu yaitu terdapat 100% merupakan pasien baru artinya pada tahun sebelumnya sebesar 4 balita kekurangan gizi sudah keluar dari status balita gizi kurang/buruk.

Dari grafik di atas terlihat tren persentase kasus balita kekurangan gizi (gizi buruk BB/TB) di Provinsi DKI Jakarta tahun 2012 hingga tahun 2018. Pada tahun 2018 terjadi penurunan yang signifikan dari tahun sebelumnya hingga mencapai 0,6%. Angka ini didasarkan pada hasil penimbangan balita yang dilaporkan di Puskesmas dan Posyandu di setiap wilayah.

Grafik diatas terlihat perbandingan kasus balita kekurangan gizi di setiap wilayah DKI Jakarta tahun 2018. Di setiap wilayah DKI Jakarta memiliki kasus terbesar yang berbeda-beda. Seperti di wilayah Kepulauan Seribu dan Jakarta Pusat kasus yang tertinggi yaitu pada kasus balita pendek (stunting) masing-masing sebesar 12,8% dan 2,4% dari jumlah balita yang ditimbang.

Sumber :

  1. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta
  2. Biro Kesejahteraan Sosial Provinsi DKI Jakarta

Penulis : Khoirun Nisa
Editor   : Hepy Dinawati