Breaking News

Pertahanan dan Keamanan

Kejadian Kejahatan/Pelanggaran Keamanan dan Ketertiban Masyarakat di DKI Jakarta

Tercatat sebanyak 8.827 kasus kejahatan atau pelanggaran keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di DKI Jakarta sepanjang tahun 2018

Polda Metro Jaya mencatat sebanyak 8.827 kasus kejahatan atau kamtibmas di DKI Jakarta sepanjang tahun 2018. Polda Metro Jaya dalam hal ini mengkategorikan kejahatan atau kamtibmas di Provinsi DKI Jakarta menjadi 18 kategori yaitu pembunuhan, perkosaan, penganiayaan ringan, penganiayaan berat, penculikan, pembakaran dengan sengaja, pengrusakan, pencurian dengan pemberatan, pencurian ringan, pencurian dengan kekerasan, pencurian dalam keluarga, penipuan, penadahan, pencurian kendaraan bermotor, pencurian biasa/lainnya, narkotika, obat keras, dan demonstrasi.

Data yang berhasil dihimpun oleh Polda Metro Jaya menunjukkan terjadinya penurunan jumlah tindak kejahatan atau pelanggaran kamtibmas di Kabupaten dan Kota Administrasi di DKI Jakarta dari tahun 2016 menuju tahun 2017 yaitu sebesar 33%. Namun, di tahun 2017 menuju ke tahun 2018 jumlah kasus kejahatan ini mengalami kenaikan sebesar 2%.

Dalam tiga tahun terakhir ini, Kabupaten Kepulauan Seribu adalah wilayah administrasi dengan jumlah kasus kejahatan paling rendah, sedangkan untuk jumlah kejadian kasus kejahatan terbanyak dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini berbeda-beda. Di tahun 2016 dan 2018, jumlah kejahatan terbanyak terjadi di Jakarta Pusat, namun berbeda dengan tahun 2017 dimana Jakarta Barat mempunyai jumlah kejahatan tertinggi dibandingkan dengan wilayah administrasi lainnya.

Sepanjang tahun 2016 sampai dengan tahun 2018, tercatat hanya 60 kejadian kejahatan di Kepulauan Seribu. Dari data yang dilaporkan oleh Polda Metro Jaya tidak tercatat ada jenis kejahatan seperti pembunuhan, perkosaan, penganiayaan berat, penculikan, pembakaran dengan sengaja, pencurian ringan, pencurian dengan kekerasan, pencurian dalam keluarga, penipuan, pencurian kendaraan bermotor, pencurian biasa/lainnya, dan demonstrasi. Dalam rentang tiga tahun ini, narkotika adalah kasus terbanyak di Kepulauan Seribu yang terjadi pada tahun 2017 dengan jumlah kejadian yang tercatat sebanyak 48 kasus.

Berbeda dengan Kepulauan Seribu, Jakarta Pusat mempunyai jumlah kejahatan terbanyak selama 2016 sampai dengan 2018 dengan total kejadian sebanyak 7.818 kasus. Tiga kasus terbanyak yang terjadi di Jakarta Pusat ini adalah narkotika, demonstrasi, dan penipuan masing-masing sebanyak 2.338 kasus, 1.898 kasus, dan 941 kasus. Jumlah kasus demonstrasi masuk kedalam tiga kasus terbanyak di Jakarta Pusat mengingat terdapat banyak gedung pemerintahan yang berlokasi di kawasan ini seperti Istana Kepresidenan Republik Indonesia, Balai Kota Provinsi DKI Jakarta, Gedung DPR/MPR Republik Indonesia dan beberapa gedung kementerian lainnya tempat dimana para pendemonstran mengungkapkan aspirasinya.

Hasil penelitian dari Universitas Indonesia (UI) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2016 yang dirilis pada tahun 2017 menyatakan bahwa DKI Jakarta adalah kota dengan konsumsi narkoba terbanyak di Indonesia. Hasil penelitian ini berbanding lurus dengan persentase jumlah kejahatan narkotika yang terjadi di DKI Jakarta. Dari sebanyak 30.381 kejadian kejahatan yang dilaporkan oleh Polda Metro Jaya sejak tahun 2016 sampai dengan 2018, sebesar 33,51% merupakan kasus narkotika yang disusul dengan kasus penipuan dan pencurian dengan masing-masing sebesar 16,98% dan 12,57%.

Tingginya kejahatan di DKI Jakarta seperti narkotika seharusnya mendorong pihak kepolisian dan dinas terkait untuk menelusuri penyebab terjadinya kejahatan tersebut. Seperti contohnya untuk kasus narkotika yang tidak hanya diatasi dengan pengungkapan jaringan penyebaran narkotika, namun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga sebaiknya melakukan suatu upaya penelusuran jaringan penyebaran narkotika sehingga dapat mengungkap jaringan besar peredaran barang terlarang ini.

Sumber : Polda Metro Jaya
Penulis : Dwi Puspita Sari
Editor   : Hepy Dinawati