Breaking News

Kesehatan

KESEHATAN PENDUDUK DKI JAKARTA 2019

Walaupun keluhan kesehatan penduduk meningkat, angka harapan hidup saat lahir lebih baik

Dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengukur derajat kesehatan penduduk. Metode yang digunakan untuk mengukur derajat kesehatan tersebut adalah dengan pendekatan subjektif melalui pertanyaan mengenai keluhan kesehatan. Jenis keluhan kesehatan tersebut antara lain panas, batuk, pilek, asma, napas cepat atau sesak, diare atau buang-buang air, sakit kepala berulang, sakit gigi dan keluhan kesehatan lainnya. Di tahun 2019, penduduk yang mengaku mengalami keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir pada saat dilaksanakan survei adalah sebesar 12,27% atau meningkat 2,07% dibanding tahun 2018. Proporsi perempuan sedikit lebih banyak dengan 13,18% dibanding laki-laki 11,35%.

Indikator kesehatan lainnya adalah penolong kelahiran pada wanita. Di tahun 2018, penolong kelahiran dengan dokter kandungan sebanyak 49,03% meningkat 3,15% dibanding tahun 2017. Penolong kelahiran dengan tenaga medis seluruhnya mencapai 99,65%, walaupun masih ada 0,35% yang menggunakan bantuan tenaga non medis (yang biasa disebut dukun beranak). Pada tahun 2017, tidak tercatat wanita yang melahirkan dengan bantuan tenaga non medis. Selain penolong kelahiran yang sudah cukup memadai, pemberian ASI pada bayi juga sudah meningkat. Di tahun 2019, pemberian ASI pada bayi berusia 0-23 bulan sudah mencakup 95,12%. Angka ini jauh meningkat dibanding tahun 2017 yang hanya 76,93%.

Berkat faktor penolong kelahiran dan pemberian ASI yang lebih baik serta faktor-faktor lainnya, angka harapan hidup (AHH) saat lahir pun meningkat. Di tahun 2018, AHH saat lahir di DKI Jakarta di angka 72,67 artinya bayi yang baru lahir di DKI Jakarta memiliki harapan hidup selama 72,67 tahun. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata nasional 71,20.

Sumber  : Badan Pusat Statistik
Penulis   : Adhitya Akbar
Editor     : Hepy Dinawat