Breaking News

Sosial Budaya

MENINGKATNYA JUMLAH KORBAN KEKERASAN PEREMPUAN DAN ANAK YANG MELAPOR KE LEMBAGA PELAYANAN

Jumlah korban kekerasan pada perempuan dan anak didominasi oleh korban yang berstatus pelajar

Baru sebulan lalu yaitu tepatnya tanggal 8 Maret, kita memperingati Hari Perempuan Internasional sebagai bentuk solidaritas internasional agar perempuan di seluruh dunia terbebas dari diskriminasi dan kekerasan. Namun, diakhir Maret sudah dikejutkan dengan berita pengeroyokan siswi SMP yang terjadi di Pontianak. Kasus yang terjadi pada siswi tersebut menambah daftar panjang korban kekerasan perempuan dan anak di Indonesia.

Berdasarkan data Catatan Tahunan 2019 yang dipublikasikan oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), jumlah kekerasan terhadap perempuan di tahun 2018 sebesar 406.178 atau mengalami kenaikan 14% dari tahun sebelumnya.

Sementara itu, angka kekerasan terhadap perempuan berdasarkan provinsi yang tertinggi pada tahun 2018 yaitu Jawa Tengah (2.913) lalu diikuti dengan DKI Jakarta (2.318) dan Jawa Timur (1.944). Meskipun jumlah kekerasan terhadap perempuan di DKI Jakarta turun posisi kedua dari yang tertinggi pada tahun 2017, namun jumlah kekerasan ini naik sebesar 16% dari tahun 2017(1.999).

Tetapi naiknya jumlah kekerasan terhadap perempuan pada grafik di atas tidak dapat disimpulkan bertambahnya kasus kekerasan, melainkan hal ini justru menunjukkan semakin banyaknya korban yang berani melapor dan tingkat kepercayaan serta kebutuhan korban pada lembaga meningkat.  Selain itu, jumlah korban yang terdata pada tahun tertentu bukan berarti seluruh kejadian kekerasan pada korban terjadi pada tahun tersebut. Dalam beberapa kasus, korban kekerasan baru melaporkan ke lembaga pelayanan setahun kemudian setelah kejadian kekerasan.

Begitupun sebaliknya, rendahnya angka kekerasan terhadap perempuan di provinsi tertentu kemungkinan besar dikarenakan tidak adanya lembaga tempat korban melapor atau rasa tidak aman/ketidakpercayaan masyarakat apabila melapor ke lembaga pelayanan.

Berdasarkan data Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dari Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DPPAPP), jumlah korban kekerasan perempuan dan anak di DKI Jakarta tahun 2018 sebanyak 1.779 kasus. Jumlah ini didominasi oleh korban dari jenis kekerasan KDRT dan kekerasan seksual dengan jumlah masing-masing 811 dan 761.

Sementara, pada tiga bulan terakhir (Januari-Maret) tahun 2019 jumlah korban kekerasan perempuan dan anak sudah mencapai 256 kasus. Jumlah ini masih didominasi oleh korban dengan jenis kekerasan KDRT dan kekerasan seksual.

Pada tahun 2018, jumlah korban kekerasan berdasarkan usia korban didominasi oleh korban dengan usia pelajar 0 – 17 tahun yaitu sebanyak 847 korban. Sedangkan, sebanyak 1.359 korban adalah korban kekerasan oleh pelaku yang berusia 25 – 59 tahun.

Sementara itu, selama Januari-Maret 2019 jumlah korban kekerasan berdasarkan usia korban masih didominasi oleh korban dengan usia pelajar 0 – 17 tahun yaitu sebanyak 137 korban. Sedangkan, sebanyak 196 korban adalah korban kekerasan oleh pelaku yang berusia 25 – 59 tahun.

Note : Sebagian besar data CATAHU yang dikompilasi Komnas Perempuan bersumber dari data kasus/perkara yang ditangani oleh Pengadilan Agama dan 209 lembaga mitra pengadaan layanan termasuk Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak.

 

Penulis : Khoirun Nisa
Editor   : Hepy Dinawati