Breaking News

Ekonomi

Nilai dan Volume Ekspor Impor Non Migas DKI Jakarta Tahun 2019

Nilai dan Volume Ekspor DKI Jakarta masih rendah dan relatif stabil apabila dibandingkan dengan Nilai dan Volume Impor DKI Jakarta yang tinggi dan fluktuatif

 

Ekspor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain. Proses ini seringkali digunakan oleh perusahaan dengan skala bisnis kecil sampai menengah sebagai strategi utama untuk bersaing di tingkat internasional. Setiap negara memiliki peraturan dan ketentuan perdagangan yang berbeda-beda. Khusus ekspor komoditas pertanian dan perikanan di Indonesia sebagian besar tidak memiliki ketentuan dan syarat yang terlalu rumit bahkan pemerintah saat ini mempermudah setiap perusahaan untuk mengekspor hasil pertanian dan perikanannya ke luar negeri.

Impor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses impor adalah tindakan memasukan barang atau komoditas dari negara lain ke dalam negeri. Impor adalah proses pembelian barang atau jasa asing dari suatu negara ke negara lain. Jika perusahaan menjual produknya secara lokal, mereka dapat manfaat karena harga lebih murah dan kualitas lebih tinggi dibandingkan pasokan dari dalam negeri.

DKI Jakarta merupakan salah satu daerah eksportir dan importir yang ada di Indonesia. Banyak hal yang menjadi alasannya, salah satunya adalah karena Jakarta terkenal sebagai kota metropolitan. Sedangkan daerah timur di Indonesia terkenal sebagai daerah pengekspor karena kekayaan sumber daya alamnya, termasuk rempah-rempah. Namun, tak disangka jika ternyata Jakarta juga merupakan daerah di Indonesia yang juga berperan sebagai daerah pengekspor dan pengimpor.

Perbandingan Volume Ekspor dan Impor DKI Jakarta (Ton)

Berdasarkan data yang didapat dari Bank Indonesia, terlihat bahwa volume impor jauh lebih tinggi dibandingkan dengan volume ekspor di DKI Jakarta, terhitung sejak Juni 2018 sampai Juni 2019. Kelompok barang ekspor dan impor di DKI Jakarta dibagi menjadi 21 kelompok barang dan dicatat berdasarkan angka free on board (f.o.b). Daftar Kelompok Barang dan Kode Barang terdapat dalam tabel di bawah ini :

No Kelompok Barang Kode Barang
1 Binatang Hidup, Produk Hewani E1
2 Produk Nabati E2
3 Lemak, Minyak dan Malam E3
4 Makanan, Minuman, Minuman Keras, dan Tembakau E4
5 Produk Mineral E5
6 Produk Industri Kimia dan Industri Sejenis E6
7 Plastik, Karet, dan Barang dari Plastik dan Karet E7
8 Kulit dan Barang dari Kulit E8
9 Kayu, Barang dari Kayu, dan Barang Anyaman E9
10 Pulp, Kertas, dan Barang dari Kertas E10
11 Tekstil dan Barang dari Tekstil E11
12 Alas Kaki, Tutup Kepala, Payung, dan Bunga Tiruan E12
13 Barang dari Batu, Semen, Gips, Asbes, Kaca, Mika, Produk Keramik E13
14 Mutiara, Batu Permata, Logam Mulia, dan Perhiasan Imitasi E14
15 Logam Tidak Mulia dan Barang Terbuat dari Logam Tidak Mulia E15
16 Mesin dan Pesawat Mekanik, Perlengkapan Elektonik dan Bagiannya E16
17 Kendaraan, Pesawat Terbang, Kendaraan dan Perlengkapannya E17
18 Alat Optik, Fotografi, Musik, Kedokteran, Bedah, dan Jam E18
19 Senjata dan Amunisi, Bagian dan Perlengkapannya E19
20 Berbagai Barang Hasil Pabrik E20
21 Karya Seni, Barang Koleksi, dan Barang Antik E21

Berdasarkan volume impor terlihat bahwa komoditas impor utama DKI Jakarta adalah Logam Tidak Mulia dan Barang Terbuat dari Logam Tidak Mulia (E15) dengan volume impor sebanyak 8.872.990 ton. Kelompok Barang kedua tertinggi yang menjadi komoditas impor DKI Jakarta adalah Produk Nabati (E2) dengan volume impor sebanyak 5.644.376 ton. Kelompok barang dengan daya impor rendah adalah Senjata dan Amunisi, Bagian dan Perlengkapannya (E14) sebanyak 372 ton.

Komoditas ekspor andalan DKI Jakarta Produk Industri Kimia dan Industri Sejenis (E6) dengan volume ekspor sebesar 745.577 ton. Hal ini mengingat bahwa DKI Jakarta merupakan salah satu pusat kawasan industri di Indonesia. Selain itu, andalan ekspor DKI Jakarta selanjutnya adalah Lemak, Minyak dan Malam (E3) dengan volume ekspor sebanyak 301.282 ton. Komoditas yang memiliki daya ekspor rendah adalah Senjata dan Amunisi, Bagian dan Perlengkapannya (E19) dan Karya Seni, Barang Koleksi, dan Barang Antik (E21) dengan volume ekspor dibawah 90 ton.

Perbandingan Nilai Ekspor dan Impor DKI Jakarta (Ribu USD)

Sementara itu jika dilihat dari nilai impor, komoditas yang memiliki nilai impor tertinggi adalah Mesin dan Pesawat Mekanik, Perlengkapan Elektonik dan Bagiannya (E16) dengan nilai impor sebanyak  20.568.283 ribu USD. Komoditas impor tertinggi kedua adalah Logam Tidak Mulia dan Barang Terbuat dari Logam Tidak Mulia (E15) dengan nilai impor sebanyak 9.614.209 ribu USD. Kelompok barang yang memiliki nilai impor rendah adalah Mutiara, Batu Permata, Logam Mulia, dan Perhiasan Imitasi (E14) dengan nilai impor sebesar 11.947 ribu USD.

Komoditas ekspor utama DKI Jakarta adalah Kendaraan, Pesawat Terbang, Kendaraan dan Perlengkapannya (E17) dengan nilai ekspor sebanyak 2.739.466 ribu USD. Hal ini dikarenakan DKI Jakarta memiliki beberapa pabrik kendaraan bermotor yang memasok kendaraan-kendaraan di kawasan Asia Tenggara. Nilai ekspor tertinggi kedua adalah Mutiara, Batu Permata, Logam Mulia dan Perhiasan Imitasi (E14) dengan nilai ekspor sebanyak 1.783.964 ribu USD. Meskipun komoditas ini memiliki nilai rendah di impor, namun ternyata memiliki nilai tinggi di ekspor.

Perbandingan Nilai Ekspor dan Impor DKI Jakarta (Ribu USD)
Perbandingan Volume Ekspor dan Impor DKI Jakarta (Ton)

Volume dan nilai impor DKI Jakarta secara keseluruhan dari Juni 2018 sampai Juni 2019 sangat fluktuatif. Terlihat bahwa nilai dan volume impor paling sering berubah. Kenaikan volume total impor diikuti dengan naiknya nilai total impor di DKI Jakarta karena kedua hal tersebut memang saling terkait. Kenaikan impor terjadi pada bulan Juli, Oktober 2018 dan Januari, Maret, April 2019. Sementara itu untuk nilai dan volume total ekspor dari Juni 2018 sampai Juni 2019 cenderung stabil yang berada pada kisaran 238.787 ton untuk volume ekspor dan 810.564 ribu USD untuk nilai ekspor.

Tingginya jumlah impor dibandingkan ekspor menjadi bukti bahwa tingkat ekspor DKI Jakarta masih rendah apabila dibandingkan dengan impor. Hal tersebut menjadi tugas dan kewajiban warga DKI Jakarta dalam meningkatkan ekspor dengan cara memakai produk-produk dalam negeri dan meminimalisir penggunaan produk-produk impor.

 

Sumber : Website Resmi Bank Indonesia (Data Diolah)
Penulis  : Iqsyan Iswara Putra
Editor    : Hepy Dinawati