Breaking News

Pemerintahan

Pengaduan Masyarakat DKI Jakarta Melalui Aplikasi CRM

Pengaduan masyarakat DKI Jakarta Melalui Aplikasi Customer Relationship Management (CRM) Terkait Masalah Lingkungan Periode Mei – Juni 2019

 

Customer Relationship Management atau sering disingkat dengan CRM merupakan strategi untuk menghubungkan atau sebagai interaksi antara sebuah organisasi (lembaga) dengan pelanggan (masyarakat) untuk meningkatkan profitabilitas. CRM biasanya berbentuk sebuah perangkat lunak yang bisa meningkatkan hubungan pelanggan. Jakarta Smart City menggunakan sistem CRM ini sebagai akses pengaduan yang dapat digunakan masyarakat untuk memberikan info atau pengaduan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap masalah yang ditemukan dari berbagai daerah di Jakarta. Berikut adalah grafik lima pengaduan terbanyak selama 3 bulan terakhir :

Sumber : Jakarta Smart City

Pengaduan paling banyak masuk ke sistem CRM pada bulan Mei adalah terkait sampah sebanyak 750 pengaduan. Setiap kecamatan didominasi dengan pengaduan masalah sampah terutama kecamatan Tanah Abang terdapat 199 pengaduan diikuti oleh Kemayoran 110 pengaduan dan yang paling sedikit yaitu di Johar Baru 39 pengaduan. Menurut Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih yang dikutip dari kompas.com mengatakan, ibu kota memproduksi 7.500 ton sampah perharinya berasal dari sampah permukiman atau rumah tangga yang dipengaruhi oleh perilaku masyarakat yang konsumtif untuk membeli sesuatu dan kemajuan teknologi. Masalah kedua yang diadukan adalah iklan liar.  Pengaduan iklan liar terbanyak terdapat di kecamatan Gambir yaitu 99 pengaduan dari total 332 pengaduan. Pengaduan ketiga yaitu pelanggaran sebanyak 203 pengaduan dengan frekuensi terbanyak yaitu Tanah Abang 60 pengaduan, masalah ke empat adalah potensi banjir sebanyak 101 pengaduan dan terakhir yaitu tanaman bermasalah sebanyak 85 pengaduan.

Sumber : Jakarta Smart City

Pengaduan yang paling banyak melalui aplikasi CRM pada bulan Juni masih persoalan sampah dengan total 608 pengaduan, namun berbeda kecamatan dari sebelumnya. Frekuensi terbanyak pada bulan Juni yaitu Kemayoran sebanyak 172 pengaduan, diikuti Gambir 120 pengaduan, dan Tanah Abang 89 pengaduan. Masalah kedua adalah Iklan liar sebanyak 209 pengaduan yang didominasi oleh Kemayoran, selanjutnya masalah terkait Potensi banjir 181 pengaduan yang paling banyak masih di Kemayoran, begitu juga tanaman bermasalah 103 pengaduan masih di Kemayoran. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat ingin pemerintah membantu masyarakat di Kecamatan Kemayoran untuk mencari solusi dari masalah tersebut.

Sumber : Jakarta Smart City

Pada bulan Juli 2019 masalah yang banyak masuk ke CRM yaitu masih masalah sampah dengan total 508 pengaduan, jumlah pengaduan ini sudah berkurang jika dibandingkan dengan 2 bulan sebelumnya. Pengaduan yang paling banyak masuk dari Tanah Abang kembali sebanyak 130 pengaduan, diikuti oleh Sawah Besar 73 pengaduan, Cempaka Putih 69 pengaduan, Kemayoran hanya 60 pengaduan jumlah ini berkurang dibandingkan bulan sebelumnya sehingga bisa diartikan penanganan pemerintah terhadap pengaduan terkait sampah di daerah Kemayoran sudah mulai baik, sedangkan jumlah pengaduan terkait sampah dari Tanah Abang meningkat kembali jika dibandingkan bulan sebelumnya oleh karena itu Kecamatan Tanah Abang harus benar-benar mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah begitu juga masyarakat agar bisa mencari upaya dalam menangani sampah. Pengaduan kedua terkait Potensi banjir sebanyak 170 pengaduan dan didominasi oleh Johar Baru 36 pengaduan, selanjutnya masalah Iklan liar 162 pengaduan yang masuk dan didominasi oleh Cempaka Putih.

Berdasarkan Informasi tersebut dapat disimpulkan bahwa pemerintah harus lebih memperhatikan masalah terkait penanganan sampah, iklan liar dan potensi banjir di DKI Jakarta, dengan cara mencari solusi, memberikan sosialisasi, dan fasilitas untuk menangani masalah tersebut kepada masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Sumber : Jakarta Smart City
Penulis : Azira Irawan
Editor   : Hepy Dinawati