Breaking News

Ketahanan Pangan

Buah dan Sayur di DKI Jakarta Tahun 2020

Konsumsi buah-buahan pada tahun 2020 justru mengalami peningkatan yang disebabkan oleh munculnya tren gaya hidup sehat

Buah dan sayur merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Buah dan sayur juga termasuk ke dalam kategori empat sehat lima sempurna. Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari mengkonsumsi buah dan sayuran. Selain mudah ditemui di hampir semua pasar, rasa yang enak membuat masyarakat suka mengonsumsi buah dan sayur. Dengan keterbatasan lahan yang ada, DKI Jakarta tetap menghasilkan tanaman hortikultura dalam upaya pemenuhan kebutuhan penduduknya. Irigasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menunjang kesuksesan dalam produksi pertanian. Pada tahun 2020, DKI Jakarta mempunyai sebanyak 1.223 irigasi untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman.

Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta

Seluas 680 hektare atau sebesar 44,30% luas panen tanaman sayuran tahun 2020 berasal dari Jakarta Timur. Jakarta Pusat tidak masuk dalam persentase penghasil panen tanaman karena tidak adanya lahan untuk menanam dalam hektare di Jakarta Pusat. Jakarta Selatan menjadi wilayah yang paling sedikit menghasilkan tanaman sayuran seluas 48 hektare atau sebesar 3,13% dari total luas lahan panen di DKI Jakarta.

Berbeda dengan tanaman pangan, lokasi lahan tanaman sayuran di DKI Jakarta tersebar di empat wilayah administrasi, meliputi Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara. Jenis tanaman yang tercatat meliputi bayam, kangkung, dan petsai. Selama tahun 2020, DKI Jakarta memiliki luas panen tanaman sayuran yang mencapai 1.535 hektare dengan produksi sebanyak 10.278 ton. Pada tahun 2020, kangkung menjadi tanaman sayur terbanyak yang dipanen di lahan seluas 40.772 hektare atau sebesar 38,63% dari total lahan di DKI Jakarta. Kangkung merupakan salah satu tanaman sayur yang diminati oleh banyak penduduk Indonesia pada umumnya dan masuk ke dalam tanaman sayur yang mudah untuk ditanam. Kedua faktor tersebut yang menjadikan sayur ini sebagai komoditas panen terbanyak di DKI Jakarta.

Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta

Jakarta Timur memiliki luas panen sayuran terbesar seluas 680 hektare atau sebesar 44,30% dari total luas panen sayuran di DKI Jakarta. Luas panen sayuran terbesar yaitu pada jenis sayuran kangkung yang mencapai  593 hektare atau sebesar 39% dari total keseluruhan luas panen. Hal ini membuat jumlah produksi kangkung sangat tinggi sebesar 40% atau sebanyak 4.077,20 ton. Sementara itu, jumlah produksi bayam sebanyak 3.646 ton dengan luas panen seluas 525 hektare, dan produksi petsai sebesar 2.554,40 ton dengan luas panen seluas 417 hektare.

Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta

Jika dilihat trennya, produksi sayuran selama periode 2013 sampai dengan 2020 mengalami fluktuasi. Pada tahun 2020, jumlah produksi sayuran sebanyak 10.278 ton. Produksi tersebut merupakan hasil panen dari lahan seluas 1.535 hektare dengan produktivitasnya sebesar 6,70 ton/hektare. Produktivitas ini meningkat 0,69 ton/hektare jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Selama tujuh tahun terakhir, produksi sayuran terbesar berada pada tahun 2015 sebanyak 15.947 ton yang dihasilkan dari luas panen seluas 2.315 hektare. Meskipun pada tahun 2015 DKI Jakarta memiliki jumlah produksi dan luas panen terbesar, akan tetapi produktivitasnya masih di bawah tahun 2017 yaitu 7,46 ton/hektare. Rendahnya produktivitas pada tahun 2015 disebabkan oleh kecilnya luas panen pada tahun 2017 jika dibandingkan dengan tahun 2015. Sejak tahun 2011, petani buah dan sayuran menggunakan teknik budidaya yang tepat sasaran dengan cara vertikultur. Ini disebabkan oleh lahan yang sempit sehingga sistem budidaya yang dilakukan adalah secara vertikal atau bertingkat. Namun, setelah tahun 2015 banyak petani yang memutuskan untuk berhenti menanam sayuran dikarenakan luas panen yang semakin sempit.

Sumber: Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta

Jumlah produksi buah-buahan di DKI Jakarta selama periode 2010 sampai dengan 2020 mengalami fluktuatif. Jumlah produksi buah-buahan terbesar yaitu pada 2012 sebanyak 432.741 kuintal. Sedangkan, pada 2016 merupakan tahun dengan jumlah produksi buah-buahan terendah sebanyak 86.379 kuintal. Sementara, pada 2020 jumlah produksi buah-buahan mengalami penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 1,88% atau sebanyak 3.502 kuintal. Tidak hanya mengalami penurunan produksi pada 2020 saja, pada tahun 2020 beberapa buah-buah impor dari China seperti jeruk, apel, dan pir mengalami penurunan yang disebabkan karena pandemi Covid-19. Walau begitu, konsumsi buah-buahan pada tahun 2020 justru mengalami peningkatan yang disebabkan oleh munculnya tren gaya hidup sehat.

Sumber: Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta

Sebesar 72,11% dari total keseluruhan produksi buah-buahan adalah mangga. Sementara itu, durian memiliki jumlah produksi paling rendah dibandingkan dengan buah-buahan lainnya yang hanya sebanyak 873 kuintal atau sebesar 1,10%. Rendahnya produksi durian di DKI Jakarta dapat disebabkan karena sulitnya untuk menanam dan memanen buah ini, selain itu dibutuhkannya lahan yang lebih luas dibandingkan dengan tanaman lainnya seperti mangga, pisang, pepaya, salak, dan jeruk.

Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, seorang manusia haruslah dalam kondisi sehat agar dapat menjalankannya dengan baik. Salah satu cara agar kondisi tubuh selalu sehat adalah dengan mengonsumsi buah dan sayur. Zat-zat seperti vitamin dan antioksidan sangat banyak terkandung dalam buah dan sayur. Saat ini masyarakat dimudahkan untuk bisa mendapatkan sayur dan buah segar. Hampir di setiap pasar tradisional tersedia buah dan sayur. Kampanye hidup sehat yang dicanangkan oleh pemerintah secara tidak langsung juga berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur oleh masyarakat.

Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta dan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta
Penulis: Bernadus Satrio Bimantoro Aji Pamungkas dan Gagar Asmara Sofa
Editor: Hepy Dinawati dan Dwi Puspita Sari