Breaking News

Ekonomi

Kemiskinan dan Pengangguran di DKI Jakarta 2021

Angka kemiskinan DKI Jakarta mulai menunjukkan penurunan. Hal ini menjadi yang pertama kalinya sejak pandemi Covid-19 berlangsung

Sejak dilanda pandemi Covid-19, keadaan ekonomi DKI Jakarta sempat berangsur-angsur mengalami penurunan. Banyak sektor usaha yang mengalami penurunan pendapatan sehingga menimbulkan tingginya angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Kondisi ini berujung kepada bertambahnya angka kemiskinan di DKI Jakarta. Definisi miskin sendiri adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan (GK), yaitu sebesar Rp715.052 per September 2021.


Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta

Pada September 2021, angka kemiskinan DKI Jakarta mulai menunjukkan penurunan. Hal ini menjadi yang pertama kalinya sejak pandemi Covid-19 berlangsung. Berkurangnya data penduduk dalam kategori miskin disebabkan oleh peningkatan daya beli masyarakat karena naiknya pendapatan secara umum. Selain itu, peran pemerintah dalam menjaga stabilitas barang juga menjadi alasan penurunan angka kemiskinan. Perlahan tapi pasti, kondisi ekonomi mulai menunjukkan perubahan yang positif seiring dengan berkurangnya angka kemiskinan. Jika dibandingkan dengan bulan maret 2021, persentase penduduk miskin pada pengambilan data terakhir yaitu September 2021 berkurang sebesar 0,05% atau sebanyak 3.630 orang.

Selama periode Maret-September 2021, angka akumulasi inflasi cenderung rendah yaitu pada 0,26%. Sehingga harga kebutuhan dasar dapat dijangkau dengan mudah oleh seluruh kalangan masyarakat, dalam hal ini termasuk masyarakat kategori miskin. Selain itu, pengeluaran per kapita masyarakat juga mengalami peningkatan. Peningkatan ini dipengaruhi oleh deflasi pada kelompok bahan makanan  sehingga meningkatkan daya beli masyarakat. Beberapa kebijakan pemerintah seperti bantuan sosial tunai, kartu Jakarta sehat, kartu Jakarta pintar dan kartu lansia Jakarta juga memiliki peran tersendiri dalam mengurangi angka kemiskinan.

Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta

Sinyal positif lainnya dari perbaikan kondisi perekonomian adalah menurunnya angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Pertumbuhan ekonomi sebesar 2,43% di DKI Jakarta pada triwulan III 2021 dibandingkan tahun 2020 turut berkontribusi mengurangi jumlah pengangguran. Terjadi penurunan sebesar 2,45% atau sebesar 133 ribu penganggur pada Agustus 2021 dibandingkan bulan yang sama di tahun sebelumnya (year-on-year). Penurunan TPT Jakarta merupakan yang tertinggi dibanding provinsi lainnya di Indonesia. Selama Agustus 2020-Agustus 2021, lapangan kerja yang ada di Jakarta sudah berhasil mengurangi 42 ribu pengangguran dan bahkan menyerap 36 ribu tenaga kerja baru.

Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta

Sebaliknya, angka ketimpangan justru semakin meningkat. Gap pendapatan antara penduduk kelas bawah dan kelas atas justru semakin tinggi. Bahkan, angka kesenjangan di DKI Jakarta konsisten di atas rata-rata nasional. Besarnya ketimpangan pengeluaran penduduk yang diukur melalui Gini Ratio pada periode ini sebesar 0,411 atau meningkat 0,002 poin jika dibandingkan dengan Maret 2021. Angka ini juga meningkat 0,11 poin dibandingkan dengan September 2020.

Secara garis besar, meskipun terjadi penurunan angka kemiskinan dan TPT, peningkatan gap pendapatan antara kelas atas dan bawah justru semakin melebar. Pada periode ini, distribusi penduduk pada kelompok pengeluaran 40% terbawah naik 0,37 persen poin menjadi 17,02 dibandingkan pada Maret 2021. Namun, angka tersebut masih menunjukkan ketimpangan pengeluaran penduduk Jakarta berada pada kategori rendah jika merujuk kepada kategori Bank Dunia.

 

Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta
Penulis: Deddy Lukman Shaid dan Muhammad Iko Dwipa Gautama
Editor: Hepy Dinawati dan Farah Khoirunnisa