Breaking News

Sosial Budaya

Korban Kekerasan yang Ditangani oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak di DKI Jakarta

Terdapat sebanyak 947 korban yang lapor dan ditangani oleh P2TP2A karena mengalami kekerasan di DKI Jakarta tahun 2020

Kekerasan terhadap anak dan perempuan dapat dikategorikan sebagai salah satu pelanggaran hak asasi manusia yang dihadapi oleh hampir semua negara di dunia. Pemimpin masing-masing negara juga telah memberikan komitmen untuk menangani masalah ini. Komitmen negara pun tertuang dalam berbagai bentuk aturan yang dibuat untuk menangani masalah kekerasan kepada anak dan perempuan. Di Indonesia, terdapat peraturan tentang kekerasan seperti Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Secara umum, pada tahun 2020 terdapat 947 jiwa korban yang mengalami kekerasan. Mulai dari korban anak perempuan yang berjumlah 385 jiwa, lalu korban anak laki-laki yang berjumlah 109 jiwa, hingga korban perempuan yang menempati jumlah korban kekerasan paling banyak yaitu 453 jiwa.

Sumber: Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Provinsi DKI Jakarta

Jumlah korban kekerasan sepanjang tahun 2020 mengalami fluktuasi setiap bulannya. Juni merupakan bulan dengan jumlah korban kekerasan terbanyak yaitu 131 jiwa, sedangkan korban kekerasan paling sedikit tercatat pada Desember yaitu 36 jiwa.

Jumlah korban kekerasan anak laki-laki pada tahun 2020 sebanyak 109 jiwa. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan jumlah korban kekerasan terhadap anak perempuan dan perempun pada tahun 2020. Korban anak laki-laki paling sedikit berada pada bulan Mei yaitu satu jiwa. Korban anak laki-laki paling banyak terjadi pada Bulan Januari yang berjumlah 20 jiwa. Sementara itu, jumlah korban kekerasan anak perempuan sepanjang tahun 2020 hampir empat kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan korban kekerasan anak laki-laki. Dapat dilihat dari Grafik Korban Kekerasan yang ditangani oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Tahun 2020 di atas bahwa jumlah korban kekerasan anak perempuan paling banyak terjadi pada bulan Januari yaitu 47 jiwa sedangkan jumlah paling sedikit terjadi pada bulan Oktober yaitu 13 jiwa. Jumlah korban kekerasan perempuan pada tahun 2020 lebih banyak dibandingkan dengan jumlah korban kekerasan anak perempuan dan laki-laki yaitu 440 jiwa. Adapun jika dilihat menurut bulan, jumlah korban kekerasan perempuan bersifat fluktuatif setiap bulannya. Juni menjadi bulan dengan jumlah korban terbanyak yaitu 72 jiwa, sedangkan korban kekerasan perempuan paling sedikit terjadi pada bulan Mei dan Oktober yaitu 24 jiwa.

Sumber: Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Provinsi DKI Jakarta

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa setiap bulannya sepanjang tahun 2020 selalu ada kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak. Mulai dari kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kekerasan seksual, trafficking, dan berbagai kasus lainnya. Sepanjang tahun 2020, total korban kekerasan terhadap perempuan dan anak mencapai 947 orang dimana untuk kasus KDRT tercatat sebanyak 386 orang. Kasus KDRT terbanyak berada pada bulan Juli dengan korban yang mencapai 42 orang, sedangkan sebaliknya bulan April menjadi bulan yang memiliki korban kekerasan paling sedikit yaitu 20 orang.

Di tahun yang sama, korban kasus kekerasan seksual mencapai 311 orang. Maret merupakan bulan dengan jumlah korban kekerasan seksual terbanyak yaitu 44 orang. Sementara itu Mei dan Oktober menjadi bulan yang memiliki korban kekerasan seksual paling sedikit yaitu 14 orang.

Selain kasus KDRT dan kekerasan seksual, terdapat juga kasus trafficking dengan jumlah korban yang mencapai 125 orang. Juli merupakan bulan yang mempunyai korban kasus trafficking paling banyak dengan total korban yang mencapai 44 orang. Sebaliknya, bulan Oktober menjadi bulan yang paling sedikit memiliki korban trafficking dengan korban hanya satu orang. Bulan April, Mei, September, dan Oktober menjadi bulan yang tidak terdapat korban trafficking. Selain itu, untuk kasus kekerasan lainnya tercatat sebanyak 125 kasus.

Data yang berhasil dihimpun dari Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Provinsi DKI Jakarta menunjukkan korban kekerasan terhadap anak dan perempuan cenderung masih banyak dan perlu mendapatkan perhatian dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarat. Kerja sama dari berbagai pihak seperti antara pemerintah dan masyarakat dalam mengedukasi masyarakat untuk mengurangi faktor-faktor yang dapat menyebabkan kekerasan merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi kekerasan yang terjadi di masa yang akan datang.

 

Sumber: Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Provinsi DKI Jakarta
Penulis: Deddy Lukman Shaid
Editor: Hepy Dinawati dan Dwi Puspita Sari