Breaking News

Kajian

Tren Harga Rata-rata Bahan Pokok 2018-2020: Menjelang Puasa dan Lebaran

Kebutuhan pangan merupakan hal yang sangat mendasar bagi manusia dan menjadi salah satu komoditas utama yang dibutuhkan oleh masyarakat [1]. Mengkonsumsi makanan yang baik serta memiliki gizi yang cukup dilakukan manusia agar dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik [2]. Berdasarkan intensitasnya, kebutuhan pokok terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kebutuhan primer, sekunder dan tersier [3].  Dalam hal ini, makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh manusia masuk dalam kebutuhan primer pada kategori pangan.

Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatat bahwa harga komoditas seperti gula, cabai merah, bawang putih, bawang merah, beras, daging ayam, daging sapi, dan minyak goreng curah mengalami kenaikan sejak bulan Maret sampai dengan April [4]. Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional, Abdullah Mansuri menambahkan bahwa kenaikan harga bahan pokok di DKI Jakarta menyebabkan banyak masyarakat merasa khawatir, ditambah lagi dengan adanya kebijakan PSBB yang membuat masyarakat membeli bahan pokok untuk stok selama proses PSBB diberlakukan oleh pemerintah [4]. Selain itu juga, saat menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan dikarenakan jumlah permintaan barang terus meningkat sedangkan jumlah barang yang tersedia tetap atau cenderung berkurang [5].

Menurut International Labour Organization (ILO), kebutuhan primer merupakan kebutuhan fisik mendasar bagi masyarakat yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan pokok baik masyarakat kaya maupun miskin, sebagai contoh kebutuhan primer yaitu hal-hal yang dapat mencukupi kebutuhan pangan dan gizi [5]. Hal tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2015 tentang Penetapan dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting, Pasal 1 Ayat 1, menyatakan bahwa: “Barang kebutuhan pokok adalah barang yang menyangkut hajat hidup orang banyak dengan skala pemenuhan yang tinggi serta menjadi faktor pendukung kesejahteraan masyarakat” [6]. Kemudian isi dari Pasal 2 Ayat 6 menyebutkan, pemerintah pusat menetapkan jenis barang kebutuhan pokok dan atau barang penting sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) sebagai berikut:

  1. Barang kebutuhan pokok hasil pertanian di antaranya beras, kedelai bahan baku tahu tempe, cabai, dan bawang merah.
  1. Barang kebutuhan pokok hasil industri di antaranya gula, minyak goreng, dan tepung terigu.
  1. Barang kebutuhan pokok hasil peternakan dan perikanan di antaranya daging sapi, daging ayam ras/broiler, telur ayam ras/broiler, dan ikan segar yaitu bandeng, kembung dan tongkol/tuna/cakalang.

Pada kajian ini akan dibahas mengenai kondisi harga rata-rata beberapa bahan pokok yang disebutkan di atas selama tiga tahun terakhir dalam kurun waktu Januari sampai dengan Juli di setiap tahunnya. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (DPPKUKM) Provinsi DKI Jakarta dalam kurun waktu Januari sampai dengan Juli di tahun 2018-2020, secara berturut-turut terjadi fluktuasi harga rata-rata dari komoditas pangan daging sapi, ayam broiler, bawang merah, beras, cabai keriting, dan telur ayam. Berikut ini akan dibahas secara lengkap mengenai hal tersebut.

Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta [7]

Harga rata-rata daging sapi lokal pada tahun 2018 mengalami kenaikan pertama kali di bulan April, harga rata-rata per kilogramnya yaitu Rp143.259,00 kemudian mengalami kenaikan dan penurunan harga rata-rata, hingga puncaknya mengalami kenaikan harga rata-rata berada pada bulan Juni yaitu Rp149.545,00 per kilogramnya. Sedangkan pada tahun 2019, harga rata-rata daging sapi lokal mengalami kenaikan pertama kali dan sekaligus menjadi harga rata-rata tertinggi pada bulan Mei yaitu Rp133.929,00 per kilogram. Pada tahun 2020, kenaikan harga pertama kali berada di bulan Maret dengan harga rata-rata mencapai Rp126.008,00 per kilogram dan harga rata-rata tertinggi berada pada bulan Mei yang mencapai Rp127.721,00 per kilogramnya.

Jika diperhatikan pada tiga tahun belakangan, harga rata-rata pada komoditas daging sapi lokal mengalami kenaikan pada saat menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Namun demikian, setelah melewati bulan tersebut harga rata-rata pada komoditas daging sapi lokal pada kurun waktu tiga tahun belakangan cenderung stabil, yaitu pada rentang harga Rp130.000,00 sampai dengan Rp145.000,00 per kilogram di setiap bulannya.

Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta [7]

Kenaikan pertama untuk komoditas daging ayam broiler di tahun 2018 terjadi pada bulan Maret dengan harga rata-rata ayam per ekornya mencapai Rp37.359,00 dan harga rata-rata tertinggi berada pada bulan Mei yang mencapai Rp38.979,00 per ekornya. Sedangkan kenaikan pertama di tahun 2019 juga terjadi pada bulan Maret yaitu dengan  harga rata-rata per ekornya mencapai Rp36.862,00 dan harga rata-rata tertinggi di bulan Juni yaitu Rp37.552,00 per ekornya. Di tahun 2020, kenaikan pertama kali komoditas ayam broiler terjadi pada bulan Februari yang mencapai Rp36.220,00 per ekornya kemudian  harga rata-rata tertingginya berada di bulan Juni yang mencapai Rp37.710,00 per ekornya.

Jika diperhatikan dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini, komoditas ayam broiler mengalami penurunan  harga rata-rata di bulan Februari. Harga rata-rata ayam tersebut kemudian naik di bulan Maret dan turun di bulan April. Permintaan ayam broiler di tiga tahun belakangan ini meningkat pada bulan Juni yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Di bulan Juni 2020, ayam broiler tetap naik, sedangkan di bulan yang sama pada tahun 2018 dan 2019 mengalami penurunan yang cukup signifikan. Melihat data permintaan dan penjualan ayam broiler dari tiga tahun terakhir, terlihat penurunan dan kenaikan harga rata-rata ayam broiler hampir terjadi di bulan yang sama.

Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta [7]

Harga rata-rata komoditas bawang merah tahun 2018 mengalami kenaikan pertama kali di bulan Maret yaitu Rp33.918,00 per kilogram, sedangkan harga rata-rata tertinggi berada di bulan Juni yang mencapai Rp38.995,00 per kilogramnya. Kemudian untuk tahun 2019 kenaikan pertama sekaligus harga rata-rata tertinggi terjadi pada bulan April dengan harga rata-rata yang mencapai Rp46.173,00 per kilogram. Sedangkan pada tahun 2020 kenaikan pertama kali terjadi di bulan April, dengan harga rata-rata yang mencapai Rp50.276,00 per kilogram dan harga rata-rata tertinggi berada di bulan Mei, dengan harga rata-rata yang mencapai Rp57.747,00 per kilogramnya.

Jika diperhatikan selama tiga tahun terakhir, perubahan harga rata-rata bawang merah relatif sama, yaitu mengalami penurunan di bulan Februari dan kemudian naik di bulan Maret. Pada tahun 2018, bawang merah mengalami sedikit penurunan di bulan April, kemudian beranjak naik hingga akhirnya turun di bulan Juli. Sedangkan di tahun 2019, harga rata-rata bawang merah terus naik  hingga puncaknya di bulan April kemudian turun di bulan Juli. Tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, di tahun 2020, bawang merah mengalami kenaikan sejak bulan Maret dan turun pasca Idul Adha di bulan Juli.

Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta [7]

Komoditas beras merupakan bahan pokok utama yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia, tidak terkecuali masyarakat DKI Jakarta. Harga rata-rata komoditas beras tahun 2018 mencapai harga tertinggi di bulan Januari, dengan harga rata-rata yang mencapai Rp11.359,00 per kilogram. Kemudian di tahun 2019, kenaikan harga pertama kali berada di bulan Maret yang mencapai Rp13.748,00 per kilogram dan puncaknya berada di bulan April yaitu mencapai Rp14.128,00 per kilogramnya. Tahun 2020 harga rata-rata tertinggi berada di bulan Januari yaitu mencapai Rp13.150,00 per kilogram. Pada bulan Februari sampai dengan Maret 2020 sempat terjadi penurunan harga dan kemudian kembali mengalami kenaikan harga di bulan April yang mencapai Rp11.342,00 per kilogram.

Jika diperhatikan  harga rata-rata pada komoditas beras medium di tiga tahun terakhir cenderung cukup stabil. Perbedaan yang begitu mendasar hanya di bulan Januari dan bulan Mei. Di bulan Januari pada tahun 2020 beras medium sempat mengalami penurunan dan kemudian stabil hingga bulan Juli. Sedangkan di bulan Mei 2019 beras medium mengalami penurunan yang cukup signifikan. Untuk tahun 2018 cenderung stabil dan harga rata-rata beras medium tidak mengalami perubahan yang begitu signifikan.

Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta [7]

Harga rata-rata komoditas cabai keriting pada tahun 2018 mengalami kenaikan tertinggi di bulan Maret yaitu mencapai Rp49.218,00 per kilogram. Di tahun 2019, kenaikan pertama kali pada komoditas cabai keriting terjadi di bulan April, harga rata-ratanya mencapai Rp26.556,00 per kilogram dan terus menerus mengalami tren kenaikan sampai puncaknya terjadi di bulan Juli, dengan harga Rp65.520,00 per kilogramnya. Sedangkan pada tahun 2020 di bulan Januari sampai dengan Februari harga komoditas cabai keriting mencapai Rp60.800,00 per kilogramnya dan terus mengalami penurunan sampai dengan bulan Juli.

Jika diperhatikan grafik di atas, pada tahun 2018  harga rata-rata cabai keriting naik di bulan Maret dan terus turun hingga bulan Juni dan beranjak naik di bulan Juli. Di tahun 2019 harga rata-rata cabai keriting sempat turun di bulan Februari dan Maret. Kemudian harga rata-rata cabai keriting naik cukup signifikan di bulan Juli 2019. Sedangkan di tahun 2020 cabai keriting mengalami penurunan  dari bulan Februari sampai dengan bulan Juli.

Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta [7]

Harga rata-rata komoditas cabai rawit merah pada tahun 2018 mengalami kenaikan tertinggi di bulan Maret yaitu mencapai Rp63.024,00 per kilogramnya. Harga rata-rata tahun 2019 mengalami penurunan pada bulan Januari sampai dengan bulan Februari, kemudian perlahan mulai mengalami kenaikan hingga puncaknya berada di bulan Juli dengan harga rata-rata mencapai Rp65.270,00 per kilogramnya. Sedangkan pada tahun 2020 terjadi tren penurunan harga mulai dari awal tahun sampai dengan bulan Juni, selanjutnya di bulan Juli mengalami kenaikan dengan harga rata-rata mencapai Rp30.982,00 per kilogramnya.

Jika diperhatikan untuk komoditas cabai rawit merah pada rentang waktu tiga tahun terakhir mengalami fluktuasi. Harga rata-rata komoditas cabai rawit merah mengalami penurunan pada bulan Juni dan kenaikan pada bulan Juli yang cukup signifikan di setiap tahunnya.

Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta [7]

Harga rata-rata komoditas telur ayam ras di tahun 2018 mengalami kenaikan pertama kali pada bulan April, yaitu mencapai Rp22.817,00 per kilogram dan terus mengalami kenaikan harga sampai puncaknya terjadi di bulan Juli yang mencapai Rp26.686,00 per kilogramnya. Tahun 2019 harga rata-rata komoditas telur ayam ras mengalami sedikit kenaikan di bulan April dan Mei, yaitu dengan harga Rp24.332,00 dan Rp24.871,00 per kilogramnya. Tahun 2020 kenaikan harga tertinggi terjadi di bulan Maret yang mencapai Rp26.819,00 per kilogramnya.

Namun, jika diperhatikan untuk komoditas telur ayam ras pada rentang waktu tiga tahun terakhir mengalami fluktuasi. Tahun 2018 dan 2020 tepatnya di bulan Juli mengalami kenaikan yang cukup signifikan, berbeda dengan tahun 2019, harga rata-rata telur ayam ras justru mengalami penurunan harga.

Secara keseluruhan harga garata-rata kebutuhan bahan pokok pada rentang waktu Januari sampai dengan Juli dalam tahun terakhir mengalami fluktuasi. Namun, jika diperhatikan lebih lanjut kenaikan bahan pokok tersebut terjadi di antara bulan Maret sampai dengan bulan Juni di setiap tahunnya. Kenaikan harga rata-rata bahan pokok terjadi saat menjelang bulan Ramadhan sampai dengan selesai Idul Fitri. Salah satu faktor yang menyebabkan fluktuasi harga kebutuhan bahan pokok yaitu kemarau panjang yang terjadi pada tahun 2019 yang menyebabkan banyak petani mengalami gagal panen dan mengakibatkan berkurangnya stok kebutuhan bahan pokok sampai dengan tahun 2020[8].

Berkaitan dengan hal tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus melakukan upaya-upaya yang tepat agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau. Salah satu program yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yaitu menyelenggarakan program pangan murah dengan alokasi dana hingga Rp400 milyar rupiah dan merupakan implementasi dari program sinergi BUMD DKI Jakarta [9].

Selain itu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mengajak masyarakat untuk dapat berkolaborasi dengan menyediakan platform KSBB pangan yang ada di portal resmi Jakarta Tanggap Covid-19 yang dapat diakses melalui https://corona.jakarta.go.id/id. Platform tersebut bertujuan memfasilitasi masyarakat pemberi bantuan dengan masyarakat penerima bantuan (terdampak Covid-19). Sejak dimulainya program KSBB pangan pada April 2020 lalu sampai dengan saat ini sudah lebih dari 100 perusahaan/kelompok/perorangan telah bergabung dalam membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak Covid-19 dengan memberikan bantuan berupa sembako [10].

Referensi

[1] E. Gustiani, “Pengendalian Cemaran Mikroba pada Bahan Pangan Asal Ternak (Daging dan Susu) Mulai dari Peternakan Sampai Dihidangkan,” Jurnal Litbang Pertanian, pp. 96-98, 2009.

[2] S. Gischa, “Makanan sebagai sumber energi,” Kompas.com, 30 April 2020. [Online]. Available: https://www.kompas.com/skola/read/2020/04/30/170000169/makanan-sebagai-sumber-energi?page=all.

[3] A. A. Hidayanti dan A. K. Fauzi, “Kajian Minat Belanja Kebutuhan Pokok Perumahan Royal Mataram,” JBMA, p. 40, 2017.

[4] R. Alika, “Di Tengah Pandemi Corona, Harga Pangan di Jakarta Masih Stabil Tinggi,” 7 April 2020. [Online]. Available: https://katadata.co.id/ekarina/berita/5e9a41f60273b/di-tengah-pandemi-corona-harga-pangan-di-jakarta-masih-stabil-tinggi.

[5] Engkus, “Implementasi undang-undang perdagangan: Implikasinya dalam kebijakan pengendalian harga kebutuhan,” LITIGASI, pp. 87-89, 2017.

[6] PERPRES, “Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2015 Tantang Penetapan Dan Penyimpanan Barang kebutuhan Pokok Dan Barang Penting,” Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2015 Nomor 138, Jakarta, 2015.

[7] Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta, “Dataset Harga Kebutuhan Bahan Pokok,” Januari-Juli 2018, 2019 & 2020. [Online]. Available: https://data.jakarta.go.id/dataset?q=harga+bahan+pokok&sort=1.

[8] B. Raharjo, “News,” Agustus 2019. [Online]. Available: https://nasional.republika.co.id/berita/pwgje6415/kemarau-panjang-picu-kenaikan-harga-pangan.

[9] B. Santoso, “Pemprov DKI Habiskan Rp 400 Miliar untuk Program Pangan Murah 2020,” Februari 2020. [Online]. Available: https://www.suara.com/news/2020/02/23/062514/pemprov-dki-habiskan-rp-400-miliar-untuk-program-pangan-murah-2020?page=all.

[10] S. Sarah, “Perjalanan Gerakan #Bantusesama Melalui Platform KSBB,” 12 Juni 2020. [Online]. Available: https://corona.jakarta.go.id/id/artikel/perjalanan-gerakan-bantusesama-melalui-platform-ksbb.

 

Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta
Penulis: Ibnu Wibowo dan Muhammad Fahim Ilmi
Editor: Dwi Puspita Sari dan Gagar Asmara Sofa