Breaking News

Kajian

Tren Kunjungan Wisatawan Nusantara ke Berbagai Destinasi Wisata di DKI Jakarta di Tengah Kebijakan PSBB dan PSBB Transisi

DKI Jakarta sebagai Ibu Kota memiliki destinasi wisata yang tidak kalah menarik dari kota-kota lainnya di Indonesia. DKI Jakarta menempati posisi keempat sebagai provinsi tujuan dari banyaknya perjalanan wisata yang dilakukan penduduk Indonesia di tahun 2018 [1]. Pilihannya pun beragam mulai dari wisata edukasi, atraksi, maupun alam. Lokasi-lokasi wisata yang tersedia itu dapat menjadi alternatif destinasi liburan bagi masyarakat nusantara yang berwisata di Jakarta selain mal (pusat perbelanjaan). Meskipun wisatawan nusantara tidak mendatangkan devisa bagi negara, akan tetapi keberadaannya tidak dapat dipandang sebelah mata dikarenakan kemampuannya dalam menggerakkan ekonomi negara [1].

Hal yang cukup disayangkan adalah pada tahun 2020—tepatnya di awal bulan Maret—Indonesia terkonfirmasi memiliki kasus Covid-19 untuk pertama kalinya.  Tidak hanya itu, DKI Jakarta bahkan disebut sebagai titik pusat penyebaran virus. Jumlah kasus yang cukup cepat bertambah di DKI Jakarta menyebabkan dibatasinya segala aktivitas masyarakat, termasuk sektor pariwisata. Sebagai upaya mencegah penyebaran Covid-19, Gubernur DKI Jakarta memutuskan untuk menutup sejumlah tempat wisata hingga museum yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta [2].

Berdasarkan Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 33 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Bab 1 Ayat 1, menyebutkan tentang dilakukannya pembatasan kegiatan penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi Covid-19 untuk mencegah kemungkinan penyebaran virus. Hal ini awam diketahui masyarakat sebagai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Oleh karena itu segala macam kegiatan di DKI Jakarta termasuk pariwisata dihentikan dalam jangka waktu tertentu.

Perlu diketahui bahwa Dinas Pariwisata di tingkat daerah merupakan salah satu lembaga yang berperan dalam memfasilitasi kegiatan pariwisata serta berfungsi sebagai wadah informasi yang bertujuan untuk meningkatkan sektor pariwisata daerah dan menciptakan suatu iklim, yang mana  kegiatan pariwisata akan dikembangkan untuk meningkatkan citra Indonesia di dunia Internasional. Misalnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta.

Menurut Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 10 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah, Dinas Pariwisata Provinsi mempunyai tugas melaksanakan urusan kepariwisataan dan kebudayaan; dan menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan Pasal 29, pemerintah provinsi berwenang untuk memfasilitasi promosi destinasi pariwisata dan produk pariwisata yang berada di wilayahnya. Sehingga dengan adanya Dinas Pariwisata Provinsi diharapkan tidak hanya sekadar meningkatkan, tetapi juga mengoordinasi, mengawasi, dan mengendalikan operasional di sektor pariwisata.

Berbicara lebih jauh mengenai sektor pariwisata di tengah masa PSBB dan PSBB transisi, dan juga berdasar pada peraturan daerah dan peraturan gubernur di atas dapat disimpulkan bahwa Dinas Pariwisata Provinsi DKI Jakarta wajib untuk mengawasi dan mengendalikan destinasi wisata di DKI Jakarta dalam masa PSBB dan juga masa perpanjangan PSBB untuk mencegah penyebaran Covid-19. Berikut detil pembahasannya.

Sumber: Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta

Data di atas merupakan data jumlah keseluruhan wisatawan nusantara yang berkunjung ke destinasi wisata di DKI Jakarta pada Januari hingga Oktober 2020. Dapat dilihat juga terdapat lima destinasi wisata dengan jumlah wisatawan nusantara terbanyak dari dua puluh destinasi wisata di tahun 2020 yaitu adalah Taman Impian Jaya Ancol dengan 3.956.916 pengunjung, Taman Mini Indonesia Indah dengan 1.924.554 pengunjung, Taman Margasatwa Ragunan dengan 1.199.984 pengunjung, Kawasan Kota Tua dengan 1.186.444 pengunjung dan Monumen Nasional dengan 663.729 pengunjung.

Sumber: Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta

Jika ditelusuri lebih detail dari lima destinasi wisata dengan jumlah kunjungan wisatawan nusantara terbanyak pada grafik di atas dapat terlihat bahwa jumlahnya mengalami fluktuasi sejak Januari hingga Oktober 2020. Pada Januari ke Februari, grafik persentase kunjungan wisatawan nusantara mengalami kenaikan di masing-masing destinasi wisata kecuali Taman Margasatwa Ragunan yang mengalami penurunan sebesar 1,1%.

Memasuki bulan Maret pada grafik di atas dapat terlihat kalau jumlah kedatangan wisatawan Nusantara mengalami penurunan yang signifikan. Terutama pada Kawasan Kota Tua yang mengalami penurunan tertinggi dengan selisih 5,22% dari bulan Februari. Penurunan jumlah kunjungan wisatawan nusantara ini bersamaan dengan mulai adanya berita tentang kasus Covid-19 di Indonesia. Sebagai langkah antisipasi, Gubernur DKI Jakarta mulai menutup tempat-tempat wisata di DKI Jakarta sejak 14 Maret 2020 seperti Ragunan, Monumen Nasional, Taman Impian Jaya Ancol dan sejumlah tempat lainnya untuk dilakukannya penyemprotan disinfektan[3]. Penutupan yang terjadi sejak 14 -29 Maret 2020 menyebabkan data jumlah kunjungan ke destinasi-destinasi wisata tersebut terhenti di sekitar minggu ke tiga bulan Maret. Inilah yang menyebabkan adanya penurunan jumlah kedatangan wisatawan nusantara ke destinasi wisata yang ada di DKI Jakarta.

Terdapat satu hal yang menarik pada grafik di periode Januari sampai dengan Oktober 2020 yaitu terdapat dua bulan dengan jumlah kedatangannya adalah 0% yaitu pada bulan April dan Mei, yang berarti tidak adanya wisatawan nusantara yang datang ke semua destinasi wisata tersebut. Ini disebabkan adanya perpanjangan penutupan tempat-tempat wisata dan tempat hiburan di DKI Jakarta yaitu mulai 30 Maret-12 April 2020. Langkah ini diambil dalam upaya meminimalkan kegiatan warga di ruang-ruang terbuka yang memicu interaksi fisik secara langsung dan kerumunan selama adanya Covid-19 di Ibu Kota [4]. Pembatasan penutupan destinasi wisata ini juga dikarenakan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah selama tiga jilid. Jilid pertama pada tanggal 10-23 April 2020, Jilid kedua pada tanggal 24 April-22 Mei 2020 dan jilid ketiga pada tanggal 22 Mei-4 Juni 2020[5]. PSBB selama kurang lebih dua bulan ini menyebabkan ditutupnya destinasi wisata di DKI Jakarta sehingga wisatawan nusantara bahkan wisatawan dari DKI Jakarta sekalipun tidak bisa berkunjung.

Memasuki Juni 2020, persentase kunjungan wisatawan nusantara mulai bergerak naik walaupun tidak terlalu signifikan akan tetapi Monumen Nasional justru tidak menunjukkan kenaikan persentase kunjungan hingga September 2020. Kenaikan jumlah kunjungan wisatawan kelima destinasi wisata yang mulai naik dari bulan Juni-Oktober disebabkan karena adanya kenormalan baru (new normal) yang terjadi di DKI Jakarta. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta akan membuka tempat wisata dan hiburan di Jakarta secara bertahap dengan tetap mempertimbangkan kondisi penyebaran kasus Covid-19. “Jadi dibukanya bertahap. Jelas dengan mempertimbangkan kasusnya seperti apa. Membaik atau tidak. Itu jadi kunci utama. Jadi tidak sekaligus bersamaan. Itu yang sedang dibahas dan mereka (pengelola wisata) harus punya protokol Covid-19 oleh masing-masing tempat wisatanya,” kata Kepala Disparekraf DKI Jakarta Cucu Ahmad Kurnia saat dihubungi di Jakarta, Rabu (27/5/2020) [6].

Pernyataan kutipan dari Kepala Disparekraf ini sesuai dengan data di atas yang menunjukkan mulai naiknya jumlah wisatawan yang berkunjung, dari bulan Juni, terkecuali Monumen Nasional yang baru mendapatkan kunjungan wisatawan pada bulan Oktober. Petugas Keamanan di Monumen Nasional mengatakan bahwa Monumen Nasional belum dapat dibuka untuk umum. Hal ini berdasarkan instruksi dari Gubernur DKI Jakarta yang dikeluarkan sejak bulan Juni [7].

Memasuki bulan Oktober, terjadi kenaikan jumlah kunjungan wisatawan nusantara pada destinasi wisata di DKI Jakarta yang signifikan terutama untuk Taman Impian Jaya Ancol sebesar 21,36%. Jumlah kunjungan wisatawan Taman Impian Jaya Ancol mengalami kenaikan paling tinggi dibandingkan dengan tempat wisata lainnya di DKI Jakarta dikarenakan PT. Taman Impian Jaya Ancol sudah siap untuk membuka kawasan rekreasi untuk umum pada Senin, 12 Oktober 2020 menyusul penetapan fase PSBB Transisi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dibukanya Taman Impian Jaya Ancol tidak hanya untuk masyarakat dengan KTP DKI, melainkan juga untuk masyarakat secara luas. Tak hanya itu, beragam promo menarik yang diberlakukan oleh Ancol pada pembukaan di masa PSBB transisi juga menjadi salah satu faktor penting yang dapat menarik minat pengunjung. Melalui rilis yang diterima Kompas.com, Selasa (13/10/2020), Department Head Corporate Communication PT Taman Impian Jaya Ancol, Rika Lestari menyampaikan bahwa pihaknya sudah menyiapkan daftar paket harga menarik bagi calon wisatawan yang ingin berkunjung ke Ancol [8]. Tentunya, hal ini dilakukan dengan tetap memberlakukan protokol kesehatan Covid-19.

Pada akhirnya, Covid-19 memang memberikan dampak yang sangat besar terhadap pariwisata, terutama di DKI Jakarta yang memang tingkat penyebaran Covid-19-nya sangat cepat dan termasuk zona merah. Oleh karenanya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah dan akan terus berupaya mengambil langkah yang tegas terkait penutupan destinasi-destinasi wisata di DKI Jakarta baik dari wisatawan nusantara maupun wisatawan asing demi menekan jumlah penyebaran Covid-19. Walaupun sekarang destinasi wisata hampir semua sudah dibuka kembali, tetapi pembatasan waktu dan kapasitas pengunjung masih harus diperhatikan oleh pihak pengelola dan wisatawan nusantara yang ingin datang berkunjung. Masyarakat harus menerima kebijakan dan protokol Kesehatan yang berlaku, walaupun ini berarti masyarakat harus rela menahan diri untuk tidak berekreasi dengan bebas dalam waktu yang belum ditentukan untuk bisa mengurangi jumlah kerumunan, dan secara langsung dapat mengurangi dampak kenaikan kasus Covid-19.

Catatan: Set data jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, Taman Margasatwa Ragunan, Kawasan Kota Tua (Kotu), dan Monumen Nasional pada Januari-Oktober 2020. Destinasi wisata yang diambil adalah 5 destinasi wisata yang memiliki jumlah kunjungan terbanyak dari 20 destinasi wisata periode Januari-Oktober 2020.

Referensi

[1] S. S. Pariwisata, Statistik Wisatawan Nusantara 2018, Jakarta: BPS RI, 2018.

[2] T. Sutrisna, “Kilas Balik: Yang Terjadi di DKI Setelah Kasus Pertama Covid-19 Diumumkan…,” 31 Mei 2020. [Online]. Available: https://megapolitan.kompas.com/read/2020/05/31/09431801/kilas-balik-yang-terjadi-di-dki-setelah-kasus-pertama-covid-19-diumumkan?page=all.

[3] C. Indonesia, “Lawan Corona, 17 Tempat Wisata Jakarta Ini Sementara Ditutup,” 14 Maret 2020. [Online]. Available: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20200314112327-33-144859/lawan-corona-17-tempat-wisata-jakarta-ini-sementara-ditutup.

[4] Y. Parjiyono, “Penutupan Tempat Wisata Di Jakarta Diperpanjang,” 28 Maret 2020. [Online]. Available: https://m.suarakarya.id/detail/108953/Penutupan-Tempat-Wisata-Di-Jakarta-Diperpanjang.

[5] T. Detikcom, “Timeline PSBB Jakarta hingga Tarik Rem Darurat,” 10 September 2020. [Online]. Available: https://news.detik.com/berita/d-5167032/timeline-psbb-jakarta-hingga-tarik-rem-darurat/1.

[6] Kompas.com, “Disparekraf: Tempat Wisata Jakarta Akan Dibuka Bertahap,” 28 Mei 2020. [Online]. Available: https://megapolitan.kompas.com/read/2020/05/28/05400081/disparekraf–tempat-wisata-jakarta-akan-dibuka-bertahap-?page=all#page2.

[7] L. Rahmawaty, “Monas masih ditutup untuk pengunjung,” 20 Juni 2020. [Online]. Available: https://www.antaranews.com/berita/1564644/monas-masih-ditutup-untuk-pengunjung.

[8] N. R. Aditya, “Promo Tiket Ancol Terbaru Oktober 2020, Masuk Dufan Rp 115.000,” 13 Oktober 2020. [Online]. Available: https://travel.kompas.com/read/2020/10/13/122900127/promo-tiket-ancol-terbaru-oktober-2020-masuk-dufan-rp-115.000?page=all.

 

Sumber: Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta
Penulis: Firmanita Ayuning Putri Rahakbauw dan Rahmat Ismail Renur
Editor: Dwi Puspita Sari dan Gagar Asmara Sofa